Sunday, October 21, 2012

Suryaku, Harryku

Rindu kali ini benar-benar tak bisa dibendungnya. Nama Harry bagaikan bisikan disetiap harinya. Padahal sudah jelang setahun Harry pergi menghadap sang pemilik nyawa. Dwifa duduk di bangku dekat jendelanya sambil menitikan air mata. Seakan langit bergambar wajah tampan kekasih hatinya yang tak lagi nyata. "Dwifa, makan dulu sayang." tegur ibunya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Iya bunda." Jawabnya malas. 
"Nggak dirumah, nggak di kampus, aku keingetan kamu mulu Ry', aku nggak ngerti gimana caranya move on dari kamu." Bicaranya dalam hati. Hari ini Dwifa hanya harus menjalani satu mata kuliah saja dan itupun sudah selesai. Dwifa berjalan lunglai, mengikuti langkahnya menyusuri lorong kampus sambil berpikir akan melakukan hal apa untuk menghilangkan kegalauannya. Setelah cukup sulit memutar otak ia memutuskan untuk pergi ke Book Cafe. Book Cafe adalah cafe kecil di depan komplek rumahnya yang mengusung konsep perpustakan. Dwifa yang memang gemar sekali membaca semenjak kenal karya Khalil Gibran saat SMA merasa nyaman sekali pergi ke tempat unik ini kalau sedang bergusar hati. Duduk di meja single, menunggu minuman kesukaannya datang, kali ini dia memilih untuk membaca novel romance sesuai dengan perasaannya yang sedang membiru. "Permisi mbak, caramel lattenya?" Kata seorang pelayan sambil menaruh minuman favorit Dwifa di mejanya. "Iya, ma......kasih ya." Jawab Dwifa kaget melihat si pelayan beranjak dari hadapannya. Pelayan yg cukup punya wajah tampan, bermata coklat gelap dengan badan tinggi tegap, sangat mirip dengan Harry. "Mas, tunggu sebentar mas!" Panggil Dwifa pada pria itu. Saat pelayan itu kembali menoleh, betapa bertambah kagetnya dia dengan sosok yang ada dihadapannya. "Harry, kamu Harry kan?" sambungya dengan parau karena hampir menangis. "Iya mbak, nama saya Harry. Kenapa mbak? Ko mbak nangis lihat saya?" Jawab si pelayan. "Kamu, nggak kenal aku Ry? Nggak inget aku? Tapi gimana mungkin sih ini, kamu kan udah nggak ada setahun lalu." Tanya Dwifa sambil melantur dan pergi begitu saja meninggalkan si pelayan dalam keadaan bingung. 
"Cewek itu kenapa?" Tanya Danu si pemilik Book Cafe. "Nggak tau, dia nanya nama gue terus dia nangis." Jawab Surya. "Terus? Kayanya lo jawab nama lo Harry tadi?" Tanyanya lagi. "Iya, iseng."Kali ini Surya menjawab datar. "Dih orang aneh!" Gumam Danu saat Surya pergi meninggalkanya untuk kembali melayani para pelanggan. 
Dirumah, Dwifa tak lagi bersedih hati, namun ia betul-betul bingung karena kejadia sore itu. "Mana ada orang mirip banget kaya gitu, namanya sama lagi. Dan nggak mungkin juga itu Harry beneran." Pikir Dwifa. 
Ditempat lain, di sebuah kostan kecil yang hanya berisi satu rak baju yang tak rapih, kasur busa yang hanya dialaskan karpet usang, laptop dan tumpukan buku-buku diatas sebuah meja pendek. Surya juga berpikir "Kenapa ya cewek tadi? Waktu gue iseng bilang nama gue Harry, gue kira dia bakalan nganggep gue temen lamanya atau mantanya gitu. Jadi gue kan bisa modus dikit. Eh dia malah nangis dan nyebut gue udah nggak ada.". 
Selang beberapa hari dari kejadian yang membuatnya semakin galau. Dwifa memilih untuk tak lagi mengunjungi Book Cafe. Sementara Surya tiap sore selalu menunggu, berharap perempuan yang menangis karena keisengannya datang lagi. 
Sudah sebulan Dwifa tak sekalipun mengunjungi Book Cafe. Minggu pagi kali ini hatinya kembali gusar, masih penasaran tentang si pelayan yang ia temui waktu itu. Dengan rasa segan ia beranjak dari rumahnya menuju tempat favoritnya itu. Lagipula ia bosan berada di rumah saat hari libur. Sampai disana Dwifa hanya mendapati Danu seorang. Sambil mencari buku yang hendak ia baca, ia juga mengunjungi setiap lorong mencari laki-laki yang ia masih pikir adalah Harry. "Mas Danu, pelayan yang namanya Harry mana ya?", "Hah! Harry?! Surya kali? Yang waktu itu nangisin kamu kan? Dia kalo hari Minggu gini suka nggak dateng. Namanya surya, lagian dia bukan pelayan, dia sahabat saya dari Bandung yang juga hobby baca. Jadi sering bantu-bantu disini. Waktu itu dia iseng mau modusin kamu tuh."Jelas Danu untuk pertanyaan Dwifa. "Modusin saya? Ngapain?" Tanya Dwifa bingung. "Ya, awalnya gara-gara saya sih, hari itu saya cerita sama dia. Kamu itu cewek manis yang emang sering kesini, cuma cemberut mulu." Jelas Danu lagi. "Naksir ya? Nama kamu siapa? Nanti saya kasih tau dia kalo kamu dateng kesinyi buat nyari dia." Tawar Danu sambil meledek Dwifa. "Yeee! Nggak! Nggak usah mas, lagian saya udah nggak penasaran lagi." Timpal Dwifa ketus. "Lagian mas, saya aja tau nama mas siapa, masa mas nggak tau nama saya. Cari aja di daftar peminjam buku. Udah ah mas! Saya pamit." Sambung Dwifa. 
Saat Dwifa berbalik badan untuk cepat-capat berlalu dari Danu, tiba-tiba Surya muncul dihadapannya dengan tatapan serius. "Kamu nyari aku?" Tegur Surya. Dwifa yang sebenarnya ingin pergi, menjawab Surya dengan emosi yang meledak sambil menagis karena sudah dibuat salah tingka sebelumnya oleh Danu. "Kamu denger apa yang aku tanya sama Mas Danu kan? Pake nanya lagi! Kamu ngapain sih Ngisengin aku bawa-bawa Harry. Harry itu pacar aku yang meninggal satu Tahun lalu dan akun sampe detik ini belum bisa ngelupain dia. Jangan mentang-mentang kamu mirip terus kamu jadi ngaku-ngaku kalo kamu dia." Tangis Dwifa semakin kencang. "Waduh, kaya sinetron. Gue cabut dulu deh Sur', titip cafe ya?" Sela Danu dan memilih pergi dari suasana dramatis itu setelah permintaanya diiyakan Surya. "Duduk dulu, hujan tuh. Lagian udah nggak ada Danu. Kamu boleh nangis disini sampai kamu puas." Ajak Surya sambil mencoba menangkan Dwifa. Setelah Dwifa tenang, Surya berusaha memulai percakapan kembali dengan meminta maaf. Lama mereka menjelaskan perasaan hati mereka selama tak bertemu dari waktu kejadian mereka pertama kali bertemu. 
Waktu kian bergulir, Surya dan Dwifa semakin dekat lalu kemudian berpacaran. Danu si sahabat memenpati peran sebagai wadah curahan hati mereka berdua. Dibenak Dwifa tak lagi membekas kesedihan tentang Harry sedikitpun. Sedangkan Surya, Surya yang berhasil menjadi laki-laki pertama yang berhasil membuat Dwifa melupakan kekasihnya yang telah pergi, mencoba untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari rival tak nyatanya itu. 
Satu malam di tempat yang berbeda. Mereka menulis isi hati mereka masing-masing untuk Harry. 
Dimulai dari Dwifa : "Ry' maaf ya akhir-akhir ini aku nggak inget kamu, kamu apa kabar? Aku udah move on nih Ry', nggak lagi ngerasa sedih kamu nggak ada. Aku sekarang punya Surya yang gantiin posisi kamu buat nemenin aku. Tapi tenang aja, posisi kamu dalam hati aku masih tetap sama kok. Aku yakin kamu seneng ngeliat aku sekarang. Kamu kan baik. Aku janji aku akan selalu doain kamu. Makasih ya Ry' selama kamu hidup kamu udah jagain aku sepenuh rasa sayang kamu ke aku. Sayang kamu banget, pelukku dari jauh buat kamu." 
Lalu kemudian Surya : "Harry, betapa kagetnya gue setelah bener2 liat kalo fisik kita mirip. Gue nggak pernah sama sekali ketemu loe. Tapi dari cerita indah Dwifa tentang loe, gue ngerasa udah kenal deket sama loe. Gue emang nggak seromantis loe kalo memperlakukan Dwifa. Tapi gue janji gue bakalan jagain Dwifa dengan baik. Gue sayang baget sama Dwifa. Meski kadang-kadang manjanya suka kelewat nyebelin. Tapi justru itu yang buat gue jadi gemes banget sama dia. Semoga loe tenag di tempat loe sekarang ya Ry'. Sampai ketemu nanti pada waktunya."


 -Agnesia Ayu Handina Satria-

No comments:

Post a Comment