Thursday, October 18, 2012

Makam Kepala


Aku berdiri tepat di depan rumah yang baru setahun belakangan ini keluargaku diami. Rumah Belanda bergaya kuno dua lantai dengan halaman besar tanpa pagar, beratap segitiga tinggi mirip atap gereja-gereja katolik kecil, memadukan warna hitam untuk semua material kayu dan putih pada didingnya. Untuk ukuran jaman sekarang rumahku memang kelihatan seperti rumah hantu yang tergambar di kebanyakan novel-novel misteri. Didukung lingkungannya yang memang berpenduduk sedikit. 
Pagi ini aku merasa malas pergi kesekolah. Kuurungkan niat pertamaku untuk belajar di tempat membosankan itu lalu berjalan santai menuju ke arah lain, rumah sahabatku Cindy. Belum sempat aku memanggil Cindy sudah tampak di halaman depan rumahnya bersama Anggi, sahabatku yang lain. "Hai Vee, sudah kuduga pikiranmu juga akan sama dengan pikiran kami." Sapa akrab Anggi padaku. "Ya, aku sedang malas berkutat dengan pelajaran-pelajaran menyebalkan hari ini." Jawabku. "Ahha! Kita pesta kamar saja sampai malam dirumahku." Saut Cindy, "kebetulan hari ini ayah ibuku sedang diluar kota, kakakku pasti juga takkan melewatkan kesempatan untuk pulang tengah malam." Sambungnya lagi. Tanpa berpikir panjang aku dan Anggi mengiyakan ajakan Cindy.
Setengah hari itu kami habiskan dengan begosip, bercanda, memasak menu simple untuk kami makan, chatting via messenger dengan anak laki-laki tinggal di luar kota kami. Kemudian perlahan terangpun berubah menjadi senja, kami masih asik melakukan kegiatan bebas kami. Aku juga Anggi sampai tak menghiraukan kecemasan yang mungkin dirasa para orang tua kami dirumah. Malampun tiba, malam ini adalah Kamis malam misteri, begitu kami bertiga menyebutnya. Cindy mempunyai saran untuk kami berkisah cerita-cerita misteri untuk kegiatan selanjutnya, "supaya seru, mumpung malam Jum'at." Katanya. Anggi lebih memilih agar kami menonton film-film horror koleksi kakak sulung Cindy yang berstyle Gothic. Aku yang kurang tertarik dengan hal-hal seperti itu tentu saja tak setuju, kami mulai memikirkan hal lain yang lebih seru. "Bagaimana kalau kita main petak umpet saja?" Ujarku semangat. Tanpa pikir panjang Cindy dan Anggi menyetujui ideku.
Malam menunjukan pukul tujuh. Kami segera bergegas melakukan permainan agar aku dan Anggi tak terlalu larut pulang ke rumah. Sialnya, aku yang kebagian peran penjaga untuk mencari dua sahabatku yang bersembunyi. Kututup mata dengan kedua tanganku dan mulai berhitung satu sampai sepuluh. Saat merasa keadaan mulai hening meski belum selesai menghitung, kupilih untuk membuka mataku dan mencari mereka. "Anggi... Cindy..." Teriakku, "Anggi... Cindy... Lihat saja, aku pasti menemukan kalian" aku mengulang teriakanku sambil menelusuri setiap sudut rumah Cindy yang penuh dengan barang-barang minimalis koleksi ayahnya. Kini aku tepat berdiri di depan ruang kecil yang dipakai sebagai lemari di kamar Cindy. Kubuka pintunya, berharap salah satu dari dua sahabatku muncul. Namun nyatanya tidak, aku justru menemukan pintu menuju keruangan lain didalam lemari itu. Kusibakan baju-baju Cindy yang tergantung rapih disana, kuhampiri pintu itu lalu kubuka perlahan. Didalamnya terdapat tangga seperti menuju keruang bawah tanah. Kuikuti langkah kakiku menuruni tangga kayu itu. Dan betapa terkejutnya aku ketika sampai dibawah. Ruangan itu mirip seperti makam yang tak bertanah, banyak peti-peti berbentuk kubus kecil yang belum rampung dikuburkan. Didinding ujung ruangan tertera papan batu marmer mirip nisan yang bertuliskan "R.I.P Disini, dimakamkan kepala para terpidana hukum penggal. Tahun 1817."
Aku berlari menaiki tangga keluar dari ruangan menyeramkan itu. Saat kututup pintu lemari Cindy, aku sudah mendapati Cindy dan Anggi yang pada akhirnya justru berbalik mencariku.
Dengan raut wajah sangat ketakutan, kutarik kedua tangan sahabat-sahabatku. "Ayo cepat, kita harus segera keluar dari rumah ini. Nanti kujelaskan jika kita sudah sampai dirumahku. Kau juga Cindy, sebaiknya kau tidur dirumahku malam ini." Ajakku dengan napas yang terengah-engah.
Sesampainya kami di rumahku, aku mempersilahkan Anggi untuk menggunakan telepon agar dia mengabari orang tuanya bahwa hari ini akan menginap dirumahku. Setelah keteganganku hilang aku memberanikan diri bercerita pada mereka apa yang aku lihat dibalik pintu lemari pakaian Cindy. Cindy si pemilik rumah terheran-heran mendengar ceritaku, "Kupikir kau sedang berkhayal Vee, tak mungkin kalau rumahku dulunya adalah makam kepala. Aku dan keluargu tak pernah merasakan keanehan selama tinggal disana." Ujar Cindy padaku. Anggi pun dengan tertawa terpingkal-pingkal menganggapku bersandiwara agar mereka berdua ketakutan secara malam ini adalah malam Jum'at. "Sudahlah berhenti bercerita konyol seperti itu, sekarang sudah larut. Mari kita istirahat." Selanya dalam perbincangan kami. "Baiklah." Jawabku kecewa karena tak ada yang percaya dengan yang aku alami. "Kupinjam piyamu ya Vee?" Tanya Anggi sambil membuka lemari bajuku. Anggi yang tadinya menertawakan ceritaku tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan berteriak kencang. Ternyata ketika pintu dibuka, sosok badan tak berkepala menghampiri kami, membawa papan batu marmer mirip dengan yang kulihat di makam kepala yang terdapat di ruang bawah tanah rumah Cindy. Hanya saja papan ini bertuliskan kalimat berbeda, yaitu "R.I.P Disini, dimakamkan jasad tubuh para terpidana hukum penggal. Tahun 1817."
Usai kejadian yang menimpa kami itu. Aku, Cindy dan Anggi baru mengetahui sejarah jelasnya lewat kakak Cindy. Bahwa kawasan rumah kami, dulunya adalah tempat para terpidana-terpidana hukuman mati diadili. Dan tepat di lokasi rumahku dan rumah Cindy adalah tempat dimana jenazah terpidana-terpidana hukum pengal di makamkan terpisah dengan kepalanya. 



 -Agnesia Ayu Handina Satria-

No comments:

Post a Comment