Thursday, October 18, 2012

RizkiMu

Pagiku hari ini bermula seperti kebanyakan orang-orang yang benar dalam menjalani hidup. Bangun pagi, bersiap-siap melaksanakan aktifitas, lalu beranjak dari persinggahan menuju tujuan yang sama "berperang dengan waktu dan lelah demi melanjutkan hidup".
Aku memilih untuk menggunakan kereta api listrik hari ini. Selain agar cepat sampai dan murah meriah, setidaknya aku takperlu berdiri lama menunggu bus kota dan ketika datangpun mesti harus berlari-lari kecil agar mendapat tempat duduk.
Sekitar sepulu menit aku duduk didalam gerebong kereta sampai akhirnya kereta mulai melaju. Tanpa sengaja aku melihat sekelilingku, satu persatu kutatap, beberapa adalah karyawan dan karyawati Jakarta berpakian rapih dengan raut wajah sama, berpikir apa yang akan dihadapi nanti ketika sampai ditempat kerja. Beberapa lagi mahasiswa dan mahasiswi yang sibuk dengan gadget mereka. Ada anak-anak sekolah berseragam yang turun di dua stasiun berikutnya. Pedagang-pedagang yang menjajakan jualannya kepada para penumpang KRL ini.
Lalu mataku terpaku pada seorang laki-laki paruh baya, mungkin umurnya sekitar 60tahun. Berpakaian seragam olah raga lusuh bertuliskan persatuan pensiunan sebuah perum negara, lengkap dengan topi dan ikat pinggang "Tut Wuri Handayani", bersepatu olah raga putih kotor dan banyak sekali jaitan solnya. Dia berdiri tak jauh dari tempat dudukku, tangan kirinya berpegangan tiang dan tangan kanan menjinjing kandang anak ayam yang diwarnai merah muda, biru muda dan hijau muda. Dia turun di stasiun yang seberangnya tepat berada sekolah dasar.
Aku mengamatinya lama, kemudian hati kecilku bergumam memanggil sebuah nama, "Hai Jibril, malaikat pembawa pesan, kemari sini hampiri aku sebentar." Setelah merasa yang kupanggil sudah dekat dan khusyu aku melanjutkan lagi perkataanku, "Jibril, tolong sampaikan pada Tuhan. Berilah rezeki yang layak untuk bapak yang aku amati lama tadi. Berilah senyum untuk orang-orang yang menunggu bapak tadi dirumah. Biarlah saya yang hari ini juga mengejar sesuatu yang sama sebetulnya mendapatkan rezekiNya paling belakang. Meski sama-sama merasa sulit mengais yang kami butuhkan, saya masih lebih bisa bertahan dibanding beliau. cuma dengan cara menyampaikan pesan lewatmu lah pada Tuhan aku bisa sedikit membantu beliau." 


-Agnesia Ayu Handina Satria-

No comments:

Post a Comment