Thursday, October 18, 2012

Menjadi Yang Unggul

"Baru kemarin Ujian Akhir Semester pertama, sekarang harus lagi belajar untuk yang kedua." protes Riyah dalam hati kecilnya. Jam dinding sudah menujuk ke pukul sepuluh malam lebih sebelas menit. Dengan mata yang tak lagi kuat menahan agar tak terpejam. Riyah masih terpaksa berkutat dengan buku-buku paket mata pelajaran yang akan dihadapinya dalam ujian besok. Sampai hampir tengah malam Ia baru membereskan buku-bukunya, mematikan lampu, menarik selimut dan tertidur.
Paginya diawali seperti pagi-pagi biasanya. Dibanguknkan Sang mama untuk Shalat Subuh lalu bersiap untuk pergi ke sekolah. Kemeja putih ketat, rok abu-abu diatas lutut, kaos kaki panjang, flat shoes putih cantik dan rambut panjang kuncir kuda yang dihias pita pink besar. Riyah bergaya didepan kaca sambil melengkapi stylenya dengan aksesoris hits anak jaman sekarang. Setelah sarapan ia berangkat kesekolah menumpang mobil pribadi ibunya dengan diantar pak supir.
Riyah termasuk dalam jajaran anak ternama di Sekolah Menengah Favorit tempatnya menimba ilmu. Bagaimana tidak? Selain cantik, Papa Riyah adalah salah satu dari donatur disana. Meski begitu Riyah bukan anak sombong. Bukan juga anak yang lebih mementingkan perkembangan dunia gaul jaman sekarang seperti kebanyakan temannya. Dia pintar, selalu mendapat peringkat kelas dan menjabat Wakil Ketua dalam Organisasi Intra Sekolah.
"Krriiiiinnngg!" bel tanda masuk berbunyi, ujianpun dimulai. Suasana ruang ujian hening, semua murid berkonsentrasi memecahkan soal nomer demi nomer di lembaran kertas ujian, beberapa ada mulai mencontek salinan, beberapa lagi mulai bertanya kanan dan kiri. Riyah asik dengan lembarannya sendiri, tersenyum sumringah seakan tak menyesal sudah belajar sampai larut semalam.
Ujianpun selesai, semua murid merasa lega telah melewati hari tegang pertama. "Hairiyah, nanti sebelum pulang kamu diminta menghadap ke ruang kepala sekolah ya." Tegur guru pengawas pada Riyah sebelum beranjak dari ruangan. "Baik pak..." Jawabnya.
Selesai berkemas Riyah langsung menuju keruang KepSek. Disana sudah menunggu Pak Kepala Sekolah dengan Pak Wakil tentunya, Guru pembina dan konseling, guru wali kelasnya, dan Jaka satu murid kelas XI lain didampingi dengan sang wali kelas. Jaka adalah satu-satunya murid dengan keterbatasan fisik di sekolah favorit itu, kakinya lumpuh dan harus menggunakan kursi roda, Jaka masuk sekolah ini bermodal beasiswa dari para donatur karena kecerdasannya. Riyah pun mengakui bahwa kepintarannya tak sebanding dengan Jaka sejak pertama kali mengenal sosok Jaka.
"Begini Hairiyah dan Jaka, kami meminta kalian kemari karena ada sesuatu hal." Pak Kepala Sekolah mengawali percakapan. "Sesuatu hal apa ya pak?" Timpal Riyah yang memang aktif dalam hal apapun, sementara Jaka memilih hanya mendengarkan. "Program pertukaran pelajar ke Australi sebentar lagi, kami sepakat bahwa kalian pantas kami berangkatkan kesana" jelas Pak Kepala Sekolah kepada Riyah dan Jaka. "Yang bener pak, saya siap pak." Kali ini dengan semangat Jaka memilih untuk bersuara. Riyah melirik Jaka, dalam hatinya merasa anak ini pasti ingin sekali berangkat sepertiku. "Tapi ternyata, Program ini hanya mengharuskan kami mengirim satu orang." Sambung Pak Wakil Kepala Sekolah. "Kami sudah mengadakan rapat guru dan pertemuan para donatur sekolah kemarin, dan sepakat bahwa Hairiyah yang akan berangkat, sementara kamu Jaka kamu akan menjabat Wakil Ketua OSIS sementara menggantikan Hairiyah." Tentu saja Riyah senang dengan keputusan itu, namun disela-sela kegembiraannya Riyah melihat wajah haru kecewanya Jaka.
Setelah pertemuan tadi selesai, Riyah menghampiri Jaka. "Jaka..." Sapanya, "hai Ri, selamat ya." Jawab Jaka tersenyum, "Makasih jak, besok ketemu di Ruang OSIS ya, gue mau kasih tau lo tugas-tugas yang perlu lo lanjutin.", "sip..." Jawab jaka lagi santai. Dengan mencoba berani mengakrabkan diri, Riyah kembali memulai percakapan dengan Jaka. "Jak, lo nggak apa-apa kan kalo gue yang berangkat?" Tanyanya. Jaka tertawa lalu kemudian menjawab "nggak apa-apalah Ri, aku udah nebak kok kalo kamu yang dipilih." Pembawaan seorang Jaka memang sopan, nggak seperti anak-anak jaman sekarang yang kalau bicara suka seenaknya. "Selain kamu eksis, anak donatur, kamu layak kok, udah cantik pintar lagi... Sedangkan aku cacat, mana mau sekolah favorit ngirim anak cacat berbeasiswa kaya aku, malu lah..." Jelas jaka sportif. "iih, lo jangan ngomong begitu jak, mungkin lo nggak apa-apa gue yang berangkat. Tapi gue yakin orang tua lo bakalan bangga kalo lo yang berangkat" balas Riyah dengan senyum.
Dirumah, Riyah terus memikirkan percakapan siang tadi dengan Jaka. Riyah pikir penjelasan Jaka tentang kenapa akhirnya dia yang dipilih ada benarnya, tapi bukankah itu justru sedikit tidak adil? "Mentang-mentang gue anak donatur gue yang dipilih gitu, padahal jelas peringkat Jaka lebih diatas peringkat gue, Jaka pasti agak kecewa. Tapi ya, namanya juga Jaka terlalu rendah hati anaknya.".
Esok hari seperti janjinya kemarin Riyah menemui Jaka diruang OSIS, tapi tidak untuk menjelaskan tugas-tugas Wakil Ketua OSIS. Dengan Pak Kepala Sekolah dan Wali Kelas Jaka, Riyah memberi penjelasan ke Jaka bahwa Jaka lebih layak berangkat untuk Program Pertukaran Pelajar karena peringkatnya berada diatas peringkat Riyah. "Surprise! Ini baru keputusan yang fair Jak, dilihat lewat peringkat. Nyokap bokap lo pasti bangga." Riyah memberi selamat dengan riang kepada Jaka sang terpilih.
Riyah dan Jaka semakin akrab setelah Jaka berangkat ke Australi, mereka sudah bisa dibilang sahabat sekarang. Mereka sering sekali bercengkrama via internet dan bercerita pengalaman setiap harinya masing-masing. Riyah senang pada akhirnya Jaka tak lagi berpikir dirinya kurang sempurna semenjak Program Pertukaran Pelajar Ia Jalani. Kata Jaka teman-temannya disana menerima Jaka dengan ramah. Riyah tak sama sekali iri, kecewa ataupun menyesal bahwa pada akhirnya bukan dia yang ada disana. Toh sesekali bukan menjadi yang unggul bukan suatu yang perlu disesali.


-Agnesia Ayu Handina Satria-

No comments:

Post a Comment