Ditengah perjalanan bus butut ini berhenti, naiklah seorang anak perempuan dan wanita paruh baya, "mungkin neneknya" pikirku. Aku sedikit lega ketika mereka naik, karena sebelumnya penumpang hanya aku dan kenek bus yang terlihat tak bersahabat. Maklumlah, sudah tengah malam lewat.
Tak berapa lama, tepat di depan Rumah Sakit mereka turun. "Hah! Rumah Sakit??? Setauku jalan menuju rumah tak sama sekali melewati satu Rumah Sakit pun" gumamku dalam hati. "Ayo turun kak..." ajak anak perempuan itu sambil meraih pergelangan tanganku, sontak kulepaskan genggamannya "Saya nggak turun disini dek, saya mau pulang kerumah...". "Jalan kamu pulang lewat sini nak, mari turun... Nggak apa-apa jangan takut... Kami akan antar kamu sampai tempat..." Saut si nenek.
Aku terdiam, ingin teriak tapi tak bisa. Kupejamkan mataku, lalu kubuka lagi perlahan. Tiba-tiba aku merasa tubuhku dingin dan ringan, dihadapanku ada ibu yang menangis dan bapak yang sedang menguatkan ibu agar kuat dan sabar. Aku panggil mereka, namun mereka seakan tak mendengar suaraku. Aku bertambah bingung, tubuhku semakin dingin dan tak menapak ditanah. Aku melihat seorang gadis mirip denganku tak bernyawa terbaring di ranjang berjalan Rumah Sakit, perut kirinya berdarah. "Lena, kenapa begini nak. Jangan tinggalin ibu secepat ini." teriak ibu sambil menangis.
"Benarkan kan kak, aku dan nenek anterin kakak pulang..." Anak perempuan itu kembali menyapaku, "Nasib kami dengan mu sama nak, kami juga sama-sama dirampok lalu ditusuk sadis kenek bus kota yang kita naiki tadi... Jenazah kami juga terbaring disini, masih menunggu jemputan keluarga kami datang." Sambung si nenek anak perempuan itu. "Kita sama-sama pulang kak..." dengan tawa kecil si anak menggandeng tanganku dengan erat membawaku terbang melayang menjauhiku dari jasad yang tak lagi bernyawa.
No comments:
Post a Comment