Thursday, October 18, 2012

Angkutan Umum Kota

Kali ini saya akan mengajak anda berimajinasi dalam cerita saya.
Sebuah angkutan umum tua lengkap dikendarai dengan supirnya, mengitari rute kawasan pinggir kota besar yang padat penduduk.
Menempati kursi paling depan, kerabat sang supir berlogat khas jawa pesisir sedang bersanda gurau sambil sesekali bersenandung dangdut mengikut alunan radio mobil. Disisi pinggir pintu belakang ditempati seorang bapak yang menghisap rokok kretek, mengenakan kemeja coklat lusuh setengah basah karena keringatnya, seperti lelah kesana kemari mencari tambahan untuk biaya sekolah anak-anaknya yang akan menghadapi tahun ajaran baru. Sebelahnya duduk seorang ibu tua berjilbab dengan hanya menenteng dompet receh kecil dan plastik hitam kresek berisi sayur mayur layu karena terlambat dibeli. Bagian pojok bangku belakang kanan berjejer segerombol anak-anak berseragam sekolah menengah yang akan pulang dari ujian disekolah yang baru saja mereka tempuh, mereka bercengkrama, tertawa riang menceritakan hal-hal yang terjadi saat disekolah tadi. Berhadapan dengan mereka, masih dibagian pojok belakang duduk bersebelahan sepasang muda mudi yang baru menjalin kasih, berpengan tangan erat sambil sesekali sang jejaka membisikan sesuatu yang hanya dibalas senyum sipu malu dari si gadis. Terakhir seorang ibu muda menggendong bayinya yang baru berumur sekitar empat bulan menempati bangku yang tepat berada dibelakan sang supir dan berhadapan langsung dengan pintu belakan yang selalu terbuka.
Hari itu siang yang sangat terik, dengan keadaan jalanan padat merayap seperti kebanyakan jalan-jalan raya yang mendiami pinggiran kota Jakarta. Debu-debu polusi berterbangan, ditimpali bau oli mobil tua yang sangat menyengat. Anak si ibu muda itu menangis kencang, suara semakin bertambah bising akibat suara tawa riang segerombol anak-anak sekolah dan suara pas-pasan si kerabat supir yang bersenandung dangdut. Ibu itu mencoba keras mendiamkan bayinya yang menangis, tapi sulit. "Bu, bu anaknya kasian banget bu kepanasan tuh jadi nangis deh, berisik..." Komentar bapak yang duduk dipinggir pintu, "iya pak, maaf.." Jawab ibu itu sambil terus menepuk-nepuk bayinya agar segera diam "cep, cep, jangan nangis dek. Sebentar lagi sampai" katanya. Bayi ibu itu tetap tak berhenti menangis membuat keadaan didalam mobil jadi kurang nyaman semua penumpang angkot mulai menunjukan raut wajah tak enak. Dengan ketus ibu tua yang duduk sebelah si bapak pinggir pintu menyeletuk "Makanya bu, kalo ngangkot jangan bawa bayi, repot... Bikin banyak orang nggak nyaman..."
Coba kita bayangkan jika juga berada dalam angkutan umum kota itu. Mungkin sebagian dari kita juga akan merasakan ketidak nyamanan akibat tangisan bayi si ibu muda. Tanpa berpikir betul apa alasan si ibu membawa bayinya menumpang angkutan umum. Biar saya jelaskan alasan sebenarnya. Pagi hari sekali suhu badan si bayi semakin meninggi, dari sejak malam hari memang sudah demam. Ayah si bayi baru pulang ke kontarakan kecil yang mereka huni mengendari motor bututnya subuh tadi, keadaannya mabuk habis berjudi kartu dengan rekan-rekan ngojeknya. Sang ibu muda yang memang sudah pasrah dengan kondisi rumah tangganya tak lagi peduli kelakuan suaminya. Bermodal uang 30ribu di dompetnya, ibu muda itu berangkat ke puskesmas membawa bayinya seorang diri menaiki turuni beberapa angkutan umum kota berharap bayinya yang sakit tertolong.
Masihkah kalian akan berpikir picik menyalahkan si ibu muda itu membawa bayinya naik turun angkot setelah tau alasannya yang benar?
Berpikirlah positif dengan keadaan apapun yang anda hadapi. 


-Agnesia Ayu Handina Satria-

No comments:

Post a Comment