Satu malam saat Nina membaringkan tubuhnya ditempat tidur, Nina merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, rasa yang sama sekali tak pernah datang sebelumnya. Namun Nina acuh, pikirnya mungkin ini hanya rasa lelah berkepanjangan karena banyaknya deadline tugas kantor yang mengharuskannya lembur beberapa hari belakangan ini. Terbayang wajah Rifky saat dia terkantuk dan hampir memejamkan mata.
Semenjak malam itu, perasaan tak enak Nina mulai merajai otaknya dan hatinya. Pikiran buruk soal rifky muncul, kemudian tetap kembali ia tepis. Muncul kembali lalu ia tepis lagi, begitu berulang-ulang sampai ia jengah. "Ya Tuhan apa salah aku terlalu percaya suamiku? Aku hanya tak ingin takut seperti kebanyakan perempuan yang nasibnya sama denganku, ditinggal dinas kerja para suaminya." Curahnya sendu pada Tuhan seusai ibadah malam, "Tunjukkan sesuatu yang jelas yang tidak membuatku bingung seperti ini. Perlihatkan padaku apa yang tak aku lihat, apa yang tak aku dengar." Lanjutnya. Begitu terus setiap malam yang ia minta pada Tuhannya.
Sampai pada malam kesekian saat Nina tertidur pulas, Nina merasakan sentuhan tangan lembut namum dingin menepuk punggungnya, samar-samar terdengar suara seorang perempuan menyapa pelan "mbak, mbak Nina.. Bangun sebentar mbak..". Sontak Nina heran dan terbangun dari tidurnya karena tak ada satupun orang lain yang tinggal di rumah kecil ini selain dirinya. Saat ia menoleh kearah belakang untuk melihat siapa yang membangunkannya. Sekali lagi, betapa kagetnya ia mendapati sesosok perempuan muda berwajah pucat dengan raut wajah memelas mengalahkan kecantikannya. Melayang tak menapak bumi, bergaun putih panjang dengan tubuh berdarah dari bagian perut sampai bawah, darahnya menetes-netes ke lantai. Tangan kirinya menenteng bayi kecil tanpa nyawa yang juga berlumuran darah. Perlahan perempuan itu mulai mendekati Nina, Nina yang ketakutan mencoba berlari, namun kakinya seakan terpaku ditempat Nina berdiri, mencoba berteriak kencang tapi tak ada yang mendengar suaranya. Jarak sosok menyeramkan itu dengan Nina kini hampir tak ada sela, kemudian ia berbisik di telinga Nina, "Saya cuma mau minta maaf mbak, maafin saya ya mbak, tolong saya biar saya tenang."
Nina tersadar sambil berteriak kencang, setelah menghela napas panjang. Matanya melihat sekeliling kamar, kosong, tak ada lagi sosok perempuan menyeramkan mendekatinya, sinar matahari pagi juga sudah terlihat disela-sela tirai jendela. Nina menoleh kearah meja di seberang kanan tempat tidurnya, dengan heran ia mengahampiri meja itu dan mulai membaca sebuah inbox jejaring sosial milik Rifky di layar komputer yang entah kenapa sudah menyala. Disitu tertulis penjelasan seorang perempuan malang yang tak sengaja mengandung anak Rifky. Menurut pesan itu Rifky bosan dengan rumah tangganya yang tak kunjung dikaruniai buah hati. Tapi ketika perempuan itu hamil Rifky justru menyarankannya untuk aborsi karena tak siap untuk menjelaskan semua yang terjadi selama ini ketika jauh dari Nina.
Dua bulan kemudian, Nina memutuskan untuk berpisah dengan Rifky. Bukan karena ia tak jujur sebetulnya. Alasannya dikarenakan kemirisan hati Nina ketika mengetahui perempuan yang Rifky hamili menyetujui permintaan Rifky untuk menggugurkan kandungannya. Hanya saja saat proses aborsi berjalan kondisi si perempuan lemah dan kemudian tak bertahan. Ia sosok perempuan yang mendatangi Nina malam itu untuk meminta maaf, adalah arwah perempuan yang disakiti oleh suaminya.
No comments:
Post a Comment