Thursday, October 18, 2012

Bukan Salah Ayahku

Selalu termenung sendu, beliau mungkin sedang memutar otak yang dipenuhi kalimat "bagaimana caranya ini?" . Sesekali beliau mengusap wajah lelahnya lalu kembali berpikir dengan tangan memangku dagu. Begitulah yang aku intip akhir-akhir ini setiap malam di ruang kerjanya.
Semenjak musibah kecil itu. ya, insiden kebakaran yang terjadi dua minggu lalu yang melalap habis beberapa rukan termasuk rukan yang ayahku pakai untuk merintis perusahaan kecilnya. Dampak yang serius justru bukan terjadi pada kehidupan keluarga kami, puji syukur aku mempunyai keluarga yang tegar menghadapi apapun dalam hidup meski dalam fase sulit seperti ini sekalipun.
Namun tidak dengan seluruh karyawan ayah yang mulai mempertanyakan nasib mereka. Mulai menyuarakan aksi-aksi brutal, berteriak "bagaimana nasib keluarga kami pak jika anda diam saja?" Begitu keadaan setiap tengah hari di muka rumah kami. Tak terlintas sedikitpun dalam benak mereka bahwa ayahku berusaha keras mencari jalan untuk menyelesaikan semua tanggung jawabnya.
Satu malam setelah siang hari membagikan apa yang dituntutkan karyawannya, itupun dari tabungan pribadi kami sekeluarga. Aku kembali menengok ruang kerja ayah. Tapi tak lagi kutemukan sosoknya melamun seperti biasa. "Kemana ayah?" Pikirku. Ku hampiri meja kerja dan kududuki kursi yang tak sedang berpenghuni itu, diatas meja terdapat secarik kertas yang bertuliskan: " Ibu sayang dan anak-anak ayah yang tercinta. Maaf jika musibah yang menimpa kantor ayah menjadikan dampak sulit untuk kehidupan kita, maaf jika pada akhirnya tabungan keluarga jadi terpakai habis untuk tanggung jawab ayah atas musibah ini. Dulu, sebelum ayah merintis karir yang hancur akibat ketidak sengajaan ini tabungan itu juga sudah ayah pakai untuk modal awal. Ayah lelah membebani keluarga ayah, ayah letih melihat kalian ikut berpikir keras menanggung semua yang ayah pikul. Sampaikan juga besarnya maaf ayah pada mereka yang setiap hari mencari ayah. -besar cinta ayah untuk kalian-".
Termenung seketika aku membaca surat ayah sampai akhirnya dikagetkan dengan suara ibu dari halaman belakang rumah kami "aaayaaahh!". Tanpa berpikir panjang aku berlari menghampiri ibu ke tempat kejadian disusul dengan kakak-kakakku kemudian. Mataku terbelalak melihat ayah tergantung di Pohon. Air mataku tak lagi bisa ku bendung. Ayahku mengakhiri hidupnya karena merasa menjadi beban buat semua orang karena musibah yang tak sama sekali sengaja menimpa kami dan mereka.
Ya Tuhan bukan salah ayah musibah itu terjadi, bukan mau ayah jika musibah itu membuat para karyawannya menderita, bukan juga mau ayah meninggalkan kami dengan cara setragis ini. Ampuni ayah, jaga ayah dan tempatkan ayah disisiMu yang paling baik. Amin.

-Agnesia Ayu Handina Satria-

No comments:

Post a Comment