Sunday, October 21, 2012

Suryaku, Harryku

Rindu kali ini benar-benar tak bisa dibendungnya. Nama Harry bagaikan bisikan disetiap harinya. Padahal sudah jelang setahun Harry pergi menghadap sang pemilik nyawa. Dwifa duduk di bangku dekat jendelanya sambil menitikan air mata. Seakan langit bergambar wajah tampan kekasih hatinya yang tak lagi nyata. "Dwifa, makan dulu sayang." tegur ibunya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Iya bunda." Jawabnya malas. 
"Nggak dirumah, nggak di kampus, aku keingetan kamu mulu Ry', aku nggak ngerti gimana caranya move on dari kamu." Bicaranya dalam hati. Hari ini Dwifa hanya harus menjalani satu mata kuliah saja dan itupun sudah selesai. Dwifa berjalan lunglai, mengikuti langkahnya menyusuri lorong kampus sambil berpikir akan melakukan hal apa untuk menghilangkan kegalauannya. Setelah cukup sulit memutar otak ia memutuskan untuk pergi ke Book Cafe. Book Cafe adalah cafe kecil di depan komplek rumahnya yang mengusung konsep perpustakan. Dwifa yang memang gemar sekali membaca semenjak kenal karya Khalil Gibran saat SMA merasa nyaman sekali pergi ke tempat unik ini kalau sedang bergusar hati. Duduk di meja single, menunggu minuman kesukaannya datang, kali ini dia memilih untuk membaca novel romance sesuai dengan perasaannya yang sedang membiru. "Permisi mbak, caramel lattenya?" Kata seorang pelayan sambil menaruh minuman favorit Dwifa di mejanya. "Iya, ma......kasih ya." Jawab Dwifa kaget melihat si pelayan beranjak dari hadapannya. Pelayan yg cukup punya wajah tampan, bermata coklat gelap dengan badan tinggi tegap, sangat mirip dengan Harry. "Mas, tunggu sebentar mas!" Panggil Dwifa pada pria itu. Saat pelayan itu kembali menoleh, betapa bertambah kagetnya dia dengan sosok yang ada dihadapannya. "Harry, kamu Harry kan?" sambungya dengan parau karena hampir menangis. "Iya mbak, nama saya Harry. Kenapa mbak? Ko mbak nangis lihat saya?" Jawab si pelayan. "Kamu, nggak kenal aku Ry? Nggak inget aku? Tapi gimana mungkin sih ini, kamu kan udah nggak ada setahun lalu." Tanya Dwifa sambil melantur dan pergi begitu saja meninggalkan si pelayan dalam keadaan bingung. 
"Cewek itu kenapa?" Tanya Danu si pemilik Book Cafe. "Nggak tau, dia nanya nama gue terus dia nangis." Jawab Surya. "Terus? Kayanya lo jawab nama lo Harry tadi?" Tanyanya lagi. "Iya, iseng."Kali ini Surya menjawab datar. "Dih orang aneh!" Gumam Danu saat Surya pergi meninggalkanya untuk kembali melayani para pelanggan. 
Dirumah, Dwifa tak lagi bersedih hati, namun ia betul-betul bingung karena kejadia sore itu. "Mana ada orang mirip banget kaya gitu, namanya sama lagi. Dan nggak mungkin juga itu Harry beneran." Pikir Dwifa. 
Ditempat lain, di sebuah kostan kecil yang hanya berisi satu rak baju yang tak rapih, kasur busa yang hanya dialaskan karpet usang, laptop dan tumpukan buku-buku diatas sebuah meja pendek. Surya juga berpikir "Kenapa ya cewek tadi? Waktu gue iseng bilang nama gue Harry, gue kira dia bakalan nganggep gue temen lamanya atau mantanya gitu. Jadi gue kan bisa modus dikit. Eh dia malah nangis dan nyebut gue udah nggak ada.". 
Selang beberapa hari dari kejadian yang membuatnya semakin galau. Dwifa memilih untuk tak lagi mengunjungi Book Cafe. Sementara Surya tiap sore selalu menunggu, berharap perempuan yang menangis karena keisengannya datang lagi. 
Sudah sebulan Dwifa tak sekalipun mengunjungi Book Cafe. Minggu pagi kali ini hatinya kembali gusar, masih penasaran tentang si pelayan yang ia temui waktu itu. Dengan rasa segan ia beranjak dari rumahnya menuju tempat favoritnya itu. Lagipula ia bosan berada di rumah saat hari libur. Sampai disana Dwifa hanya mendapati Danu seorang. Sambil mencari buku yang hendak ia baca, ia juga mengunjungi setiap lorong mencari laki-laki yang ia masih pikir adalah Harry. "Mas Danu, pelayan yang namanya Harry mana ya?", "Hah! Harry?! Surya kali? Yang waktu itu nangisin kamu kan? Dia kalo hari Minggu gini suka nggak dateng. Namanya surya, lagian dia bukan pelayan, dia sahabat saya dari Bandung yang juga hobby baca. Jadi sering bantu-bantu disini. Waktu itu dia iseng mau modusin kamu tuh."Jelas Danu untuk pertanyaan Dwifa. "Modusin saya? Ngapain?" Tanya Dwifa bingung. "Ya, awalnya gara-gara saya sih, hari itu saya cerita sama dia. Kamu itu cewek manis yang emang sering kesini, cuma cemberut mulu." Jelas Danu lagi. "Naksir ya? Nama kamu siapa? Nanti saya kasih tau dia kalo kamu dateng kesinyi buat nyari dia." Tawar Danu sambil meledek Dwifa. "Yeee! Nggak! Nggak usah mas, lagian saya udah nggak penasaran lagi." Timpal Dwifa ketus. "Lagian mas, saya aja tau nama mas siapa, masa mas nggak tau nama saya. Cari aja di daftar peminjam buku. Udah ah mas! Saya pamit." Sambung Dwifa. 
Saat Dwifa berbalik badan untuk cepat-capat berlalu dari Danu, tiba-tiba Surya muncul dihadapannya dengan tatapan serius. "Kamu nyari aku?" Tegur Surya. Dwifa yang sebenarnya ingin pergi, menjawab Surya dengan emosi yang meledak sambil menagis karena sudah dibuat salah tingka sebelumnya oleh Danu. "Kamu denger apa yang aku tanya sama Mas Danu kan? Pake nanya lagi! Kamu ngapain sih Ngisengin aku bawa-bawa Harry. Harry itu pacar aku yang meninggal satu Tahun lalu dan akun sampe detik ini belum bisa ngelupain dia. Jangan mentang-mentang kamu mirip terus kamu jadi ngaku-ngaku kalo kamu dia." Tangis Dwifa semakin kencang. "Waduh, kaya sinetron. Gue cabut dulu deh Sur', titip cafe ya?" Sela Danu dan memilih pergi dari suasana dramatis itu setelah permintaanya diiyakan Surya. "Duduk dulu, hujan tuh. Lagian udah nggak ada Danu. Kamu boleh nangis disini sampai kamu puas." Ajak Surya sambil mencoba menangkan Dwifa. Setelah Dwifa tenang, Surya berusaha memulai percakapan kembali dengan meminta maaf. Lama mereka menjelaskan perasaan hati mereka selama tak bertemu dari waktu kejadian mereka pertama kali bertemu. 
Waktu kian bergulir, Surya dan Dwifa semakin dekat lalu kemudian berpacaran. Danu si sahabat memenpati peran sebagai wadah curahan hati mereka berdua. Dibenak Dwifa tak lagi membekas kesedihan tentang Harry sedikitpun. Sedangkan Surya, Surya yang berhasil menjadi laki-laki pertama yang berhasil membuat Dwifa melupakan kekasihnya yang telah pergi, mencoba untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari rival tak nyatanya itu. 
Satu malam di tempat yang berbeda. Mereka menulis isi hati mereka masing-masing untuk Harry. 
Dimulai dari Dwifa : "Ry' maaf ya akhir-akhir ini aku nggak inget kamu, kamu apa kabar? Aku udah move on nih Ry', nggak lagi ngerasa sedih kamu nggak ada. Aku sekarang punya Surya yang gantiin posisi kamu buat nemenin aku. Tapi tenang aja, posisi kamu dalam hati aku masih tetap sama kok. Aku yakin kamu seneng ngeliat aku sekarang. Kamu kan baik. Aku janji aku akan selalu doain kamu. Makasih ya Ry' selama kamu hidup kamu udah jagain aku sepenuh rasa sayang kamu ke aku. Sayang kamu banget, pelukku dari jauh buat kamu." 
Lalu kemudian Surya : "Harry, betapa kagetnya gue setelah bener2 liat kalo fisik kita mirip. Gue nggak pernah sama sekali ketemu loe. Tapi dari cerita indah Dwifa tentang loe, gue ngerasa udah kenal deket sama loe. Gue emang nggak seromantis loe kalo memperlakukan Dwifa. Tapi gue janji gue bakalan jagain Dwifa dengan baik. Gue sayang baget sama Dwifa. Meski kadang-kadang manjanya suka kelewat nyebelin. Tapi justru itu yang buat gue jadi gemes banget sama dia. Semoga loe tenag di tempat loe sekarang ya Ry'. Sampai ketemu nanti pada waktunya."


 -Agnesia Ayu Handina Satria-

Thursday, October 18, 2012

Makam Kepala


Aku berdiri tepat di depan rumah yang baru setahun belakangan ini keluargaku diami. Rumah Belanda bergaya kuno dua lantai dengan halaman besar tanpa pagar, beratap segitiga tinggi mirip atap gereja-gereja katolik kecil, memadukan warna hitam untuk semua material kayu dan putih pada didingnya. Untuk ukuran jaman sekarang rumahku memang kelihatan seperti rumah hantu yang tergambar di kebanyakan novel-novel misteri. Didukung lingkungannya yang memang berpenduduk sedikit. 
Pagi ini aku merasa malas pergi kesekolah. Kuurungkan niat pertamaku untuk belajar di tempat membosankan itu lalu berjalan santai menuju ke arah lain, rumah sahabatku Cindy. Belum sempat aku memanggil Cindy sudah tampak di halaman depan rumahnya bersama Anggi, sahabatku yang lain. "Hai Vee, sudah kuduga pikiranmu juga akan sama dengan pikiran kami." Sapa akrab Anggi padaku. "Ya, aku sedang malas berkutat dengan pelajaran-pelajaran menyebalkan hari ini." Jawabku. "Ahha! Kita pesta kamar saja sampai malam dirumahku." Saut Cindy, "kebetulan hari ini ayah ibuku sedang diluar kota, kakakku pasti juga takkan melewatkan kesempatan untuk pulang tengah malam." Sambungnya lagi. Tanpa berpikir panjang aku dan Anggi mengiyakan ajakan Cindy.
Setengah hari itu kami habiskan dengan begosip, bercanda, memasak menu simple untuk kami makan, chatting via messenger dengan anak laki-laki tinggal di luar kota kami. Kemudian perlahan terangpun berubah menjadi senja, kami masih asik melakukan kegiatan bebas kami. Aku juga Anggi sampai tak menghiraukan kecemasan yang mungkin dirasa para orang tua kami dirumah. Malampun tiba, malam ini adalah Kamis malam misteri, begitu kami bertiga menyebutnya. Cindy mempunyai saran untuk kami berkisah cerita-cerita misteri untuk kegiatan selanjutnya, "supaya seru, mumpung malam Jum'at." Katanya. Anggi lebih memilih agar kami menonton film-film horror koleksi kakak sulung Cindy yang berstyle Gothic. Aku yang kurang tertarik dengan hal-hal seperti itu tentu saja tak setuju, kami mulai memikirkan hal lain yang lebih seru. "Bagaimana kalau kita main petak umpet saja?" Ujarku semangat. Tanpa pikir panjang Cindy dan Anggi menyetujui ideku.
Malam menunjukan pukul tujuh. Kami segera bergegas melakukan permainan agar aku dan Anggi tak terlalu larut pulang ke rumah. Sialnya, aku yang kebagian peran penjaga untuk mencari dua sahabatku yang bersembunyi. Kututup mata dengan kedua tanganku dan mulai berhitung satu sampai sepuluh. Saat merasa keadaan mulai hening meski belum selesai menghitung, kupilih untuk membuka mataku dan mencari mereka. "Anggi... Cindy..." Teriakku, "Anggi... Cindy... Lihat saja, aku pasti menemukan kalian" aku mengulang teriakanku sambil menelusuri setiap sudut rumah Cindy yang penuh dengan barang-barang minimalis koleksi ayahnya. Kini aku tepat berdiri di depan ruang kecil yang dipakai sebagai lemari di kamar Cindy. Kubuka pintunya, berharap salah satu dari dua sahabatku muncul. Namun nyatanya tidak, aku justru menemukan pintu menuju keruangan lain didalam lemari itu. Kusibakan baju-baju Cindy yang tergantung rapih disana, kuhampiri pintu itu lalu kubuka perlahan. Didalamnya terdapat tangga seperti menuju keruang bawah tanah. Kuikuti langkah kakiku menuruni tangga kayu itu. Dan betapa terkejutnya aku ketika sampai dibawah. Ruangan itu mirip seperti makam yang tak bertanah, banyak peti-peti berbentuk kubus kecil yang belum rampung dikuburkan. Didinding ujung ruangan tertera papan batu marmer mirip nisan yang bertuliskan "R.I.P Disini, dimakamkan kepala para terpidana hukum penggal. Tahun 1817."
Aku berlari menaiki tangga keluar dari ruangan menyeramkan itu. Saat kututup pintu lemari Cindy, aku sudah mendapati Cindy dan Anggi yang pada akhirnya justru berbalik mencariku.
Dengan raut wajah sangat ketakutan, kutarik kedua tangan sahabat-sahabatku. "Ayo cepat, kita harus segera keluar dari rumah ini. Nanti kujelaskan jika kita sudah sampai dirumahku. Kau juga Cindy, sebaiknya kau tidur dirumahku malam ini." Ajakku dengan napas yang terengah-engah.
Sesampainya kami di rumahku, aku mempersilahkan Anggi untuk menggunakan telepon agar dia mengabari orang tuanya bahwa hari ini akan menginap dirumahku. Setelah keteganganku hilang aku memberanikan diri bercerita pada mereka apa yang aku lihat dibalik pintu lemari pakaian Cindy. Cindy si pemilik rumah terheran-heran mendengar ceritaku, "Kupikir kau sedang berkhayal Vee, tak mungkin kalau rumahku dulunya adalah makam kepala. Aku dan keluargu tak pernah merasakan keanehan selama tinggal disana." Ujar Cindy padaku. Anggi pun dengan tertawa terpingkal-pingkal menganggapku bersandiwara agar mereka berdua ketakutan secara malam ini adalah malam Jum'at. "Sudahlah berhenti bercerita konyol seperti itu, sekarang sudah larut. Mari kita istirahat." Selanya dalam perbincangan kami. "Baiklah." Jawabku kecewa karena tak ada yang percaya dengan yang aku alami. "Kupinjam piyamu ya Vee?" Tanya Anggi sambil membuka lemari bajuku. Anggi yang tadinya menertawakan ceritaku tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan berteriak kencang. Ternyata ketika pintu dibuka, sosok badan tak berkepala menghampiri kami, membawa papan batu marmer mirip dengan yang kulihat di makam kepala yang terdapat di ruang bawah tanah rumah Cindy. Hanya saja papan ini bertuliskan kalimat berbeda, yaitu "R.I.P Disini, dimakamkan jasad tubuh para terpidana hukum penggal. Tahun 1817."
Usai kejadian yang menimpa kami itu. Aku, Cindy dan Anggi baru mengetahui sejarah jelasnya lewat kakak Cindy. Bahwa kawasan rumah kami, dulunya adalah tempat para terpidana-terpidana hukuman mati diadili. Dan tepat di lokasi rumahku dan rumah Cindy adalah tempat dimana jenazah terpidana-terpidana hukum pengal di makamkan terpisah dengan kepalanya. 



 -Agnesia Ayu Handina Satria-

Maafkan Saya

Tiga tahun lamanya Nina menjalani rumah tangga dengan suaminya Rifky. Kehidupan mereka selama itu terbilang harmonis, perbedaan pendapat sampai harus bertengkar jarang mereka lewati. Hanya saja mereka berdua belum juga dikaruniai buah hati seperti yang diidam-idamkam pasangan suami istri. Kepercayaan Nina sangat penuh terhadap Rifky, begitu pula sebaliknya. Bahkan setengah waktu dari perjalanan rumah tangga mereka, mereka jalani dengan hidup terpisah. Rifky yang bekerja sebagai koordinator cabang sebuah shuttel agency, membuatnya bekerja jauh dari rumah di luar kota. Tapi keadaan itu tak lantas membuat mereka goyah.
Satu malam saat Nina membaringkan tubuhnya ditempat tidur, Nina merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, rasa yang sama sekali tak pernah datang sebelumnya. Namun Nina acuh, pikirnya mungkin ini hanya rasa lelah berkepanjangan karena banyaknya deadline tugas kantor yang mengharuskannya lembur beberapa hari belakangan ini. Terbayang wajah Rifky saat dia terkantuk dan hampir memejamkan mata.
Semenjak malam itu, perasaan tak enak Nina mulai merajai otaknya dan hatinya. Pikiran buruk soal rifky muncul, kemudian tetap kembali ia tepis. Muncul kembali lalu ia tepis lagi, begitu berulang-ulang sampai ia jengah. "Ya Tuhan apa salah aku terlalu percaya suamiku? Aku hanya tak ingin takut seperti kebanyakan perempuan yang nasibnya sama denganku, ditinggal dinas kerja para suaminya." Curahnya sendu pada Tuhan seusai ibadah malam, "Tunjukkan sesuatu yang jelas yang tidak membuatku bingung seperti ini. Perlihatkan padaku apa yang tak aku lihat, apa yang tak aku dengar." Lanjutnya. Begitu terus setiap malam yang ia minta pada Tuhannya.
Sampai pada malam kesekian saat Nina tertidur pulas, Nina merasakan sentuhan tangan lembut namum dingin menepuk punggungnya, samar-samar terdengar suara seorang perempuan menyapa pelan "mbak, mbak Nina.. Bangun sebentar mbak..". Sontak Nina heran dan terbangun dari tidurnya karena tak ada satupun orang lain yang tinggal di rumah kecil ini selain dirinya. Saat ia menoleh kearah belakang untuk melihat siapa yang membangunkannya. Sekali lagi, betapa kagetnya ia mendapati sesosok perempuan muda berwajah pucat dengan raut wajah memelas mengalahkan kecantikannya. Melayang tak menapak bumi, bergaun putih panjang dengan tubuh berdarah dari bagian perut sampai bawah, darahnya menetes-netes ke lantai. Tangan kirinya menenteng bayi kecil tanpa nyawa yang juga berlumuran darah. Perlahan perempuan itu mulai mendekati Nina, Nina yang ketakutan mencoba berlari, namun kakinya seakan terpaku ditempat Nina berdiri, mencoba berteriak kencang tapi tak ada yang mendengar suaranya. Jarak sosok menyeramkan itu dengan Nina kini hampir tak ada sela, kemudian ia berbisik di telinga Nina, "Saya cuma mau minta maaf mbak, maafin saya ya mbak, tolong saya biar saya tenang."
Nina tersadar sambil berteriak kencang, setelah menghela napas panjang. Matanya melihat sekeliling kamar, kosong, tak ada lagi sosok perempuan menyeramkan mendekatinya, sinar matahari pagi juga sudah terlihat disela-sela tirai jendela. Nina menoleh kearah meja di seberang kanan tempat tidurnya, dengan heran ia mengahampiri meja itu dan mulai membaca sebuah inbox jejaring sosial milik Rifky di layar komputer yang entah kenapa sudah menyala. Disitu tertulis penjelasan seorang perempuan malang yang tak sengaja mengandung anak Rifky. Menurut pesan itu Rifky bosan dengan rumah tangganya yang tak kunjung dikaruniai buah hati. Tapi ketika perempuan itu hamil Rifky justru menyarankannya untuk aborsi karena tak siap untuk menjelaskan semua yang terjadi selama ini ketika jauh dari Nina.
Dua bulan kemudian, Nina memutuskan untuk berpisah dengan Rifky. Bukan karena ia tak jujur sebetulnya. Alasannya dikarenakan kemirisan hati Nina ketika mengetahui perempuan yang Rifky hamili menyetujui permintaan Rifky untuk menggugurkan kandungannya. Hanya saja saat proses aborsi berjalan kondisi si perempuan lemah dan kemudian tak bertahan. Ia sosok perempuan yang mendatangi Nina malam itu untuk meminta maaf, adalah arwah perempuan yang disakiti oleh suaminya. 


-Agnesia Ayu Handina Satria-

Pulang

Dua jam menunggu termenung sendiri. Sekarang hampir tengah malam. Ojek yang biasa menjemputku selepas jam kerja tak kunjung datang. Dari mulai halte ini masih ramai para karyawan swalayan bubar sampai tinggalku seorang. Teleponku tak dijawabnya, smsku tak dibalasnya. Setelah mengabari ibu bahwa aku mungkin akan telat sampai rumah, aku memilih tak lagi menunggu. Dengan bus butut berute daerah dekat rumahku, aku menuju pulang.
Ditengah perjalanan bus butut ini berhenti, naiklah seorang anak perempuan dan wanita paruh baya, "mungkin neneknya" pikirku. Aku sedikit lega ketika mereka naik, karena sebelumnya penumpang hanya aku dan kenek bus yang terlihat tak bersahabat. Maklumlah, sudah tengah malam lewat.
Tak berapa lama, tepat di depan Rumah Sakit mereka turun. "Hah! Rumah Sakit??? Setauku jalan menuju rumah tak sama sekali melewati satu Rumah Sakit pun" gumamku dalam hati. "Ayo turun kak..." ajak anak perempuan itu sambil meraih pergelangan tanganku, sontak kulepaskan genggamannya "Saya nggak turun disini dek, saya mau pulang kerumah...". "Jalan kamu pulang lewat sini nak, mari turun... Nggak apa-apa jangan takut... Kami akan antar kamu sampai tempat..." Saut si nenek.
Aku terdiam, ingin teriak tapi tak bisa. Kupejamkan mataku, lalu kubuka lagi perlahan. Tiba-tiba aku merasa tubuhku dingin dan ringan, dihadapanku ada ibu yang menangis dan bapak yang sedang menguatkan ibu agar kuat dan sabar. Aku panggil mereka, namun mereka seakan tak mendengar suaraku. Aku bertambah bingung, tubuhku semakin dingin dan tak menapak ditanah. Aku melihat seorang gadis mirip denganku tak bernyawa terbaring di ranjang berjalan Rumah Sakit, perut kirinya berdarah. "Lena, kenapa begini nak. Jangan tinggalin ibu secepat ini." teriak ibu sambil menangis.
"Benarkan kan kak, aku dan nenek anterin kakak pulang..." Anak perempuan itu kembali menyapaku, "Nasib kami dengan mu sama nak, kami juga sama-sama dirampok lalu ditusuk sadis kenek bus kota yang kita naiki tadi... Jenazah kami juga terbaring disini, masih menunggu jemputan keluarga kami datang." Sambung si nenek anak perempuan itu. "Kita sama-sama pulang kak..." dengan tawa kecil si anak menggandeng tanganku dengan erat membawaku terbang melayang menjauhiku dari jasad yang tak lagi bernyawa. 


-Agnesia Ayu Handina Satria-

Dia Istriku


"Aku mencintainya tulus, dengan semua yang ada dalam dirinya." Begitu yang selalu dikatakannya saat semua orang terheran kenapa dia begitu kuat bertahan disampingku. Aku tipikal orang yang bukan hanya keras kepala, tapi juga keras hati. Orang-orang yang mendampingiku harus secara alami mempunyai sifat sangat penurut. Kalau tidak, aku yakin akan lebih banyak pertikaian terjadi dibanding moment-monent harmonis. 
Waktu pertama kali menjalin kasih dengannya, tak sama sekali kugunakan perasaan untuk memperlakukannya sebagai seorang kekasih. Kami masih terbilang muda saat itu, jadi menurutku hubungan kami hanya sekedar untuk bersenang-senang. Tapi nyatanya tidak untuk dia, perempuan yang memang mempunyai hati sangat lembut ini terlalu ringkih untuk menganggap hal yang kami jalani adalah sebuah kesenangan belaka. Harapannya pada hubungan kami sangat besar untuk mencapai kalimat "Bahagia Selamanya.". Menyadari hal itu aku memilih untuk mundur, tapi berkali-kali aku mundur berkali-kali itu pula dia berjuang keras untuk membuatku kembali, dan dia berhasil. Entah kenapa aku merasa, meski aku ragu bisa membalas begitu besar rasa cintanya padaku, aku tak bisa memungkiri bahwa aku membutuhkannya disampingku, satu-satunya perempuan yang tak tumbang berdiri disampingku.
Sembilan tahun lamanya kami bersama dalam hubungan yang orang-orang sebut dengan kata "pacaran". Kali ini aku membuat sebuah kesalahan besar yang justru seperti senjata makan tuan untukku. Kekasih hati yang setia namun tak pernah kuanggap pergi, lelah berjuang keras untuk meluluhkanku, menyerah pasrah meskipun berat untuk pergi menghilang dari kehidupannku. Aku sadar betul kali ini aku betul-betul menyakiti hatinya sampai kebagian paling dalam. Kekalutan mulai menguasai diriku yang ternyata tak bisa hidup jauh tanpanya.
Sampai pada satu malam dalam keadaan mabuk parah, aku mengendarai mobilku dengan laju kecepatan diatas normal, aku kehilangan kendali dan akhirnya mengalami kecelakaan parah yang membuatku lumpuh permanen.
Hari ini, ditempat favorit kami. Aku yang hanya bisa duduk diatas kursi roda, menyaksikan matahari terbenam didampingi perempuan paling cantik yang pernah aku temui selama hidupku. Perempuan dengan hati selayak emas yang mengatas namakan aku dalam perjuanganya mencapai kalimat "bahagia selamanya". Perempuan hebat yang tanpa mengeluh sediktpun memutuskan untuk kembali memdedikasikan dirinya mendampingiku, laki-laki lumpuh tak tahu diri yang dulu pernah menyakitinya. Perempuan luar biasa ini kini kusebut istriku.
Disaksikan alam, dengan keadaanku yang apa adanya sekarang, aku memberanikan diri untuk mengatakan hal yang tak pernah sebelumnya, hal yang paling ia tunggu-tungu, hal yang seharusnya aku katakan dari awal tapi tidak karena aku mebiarkan keraguanku mengalahkan rasa yang sebenarnya ada. "Aku sayang kamu istriku". Dia tersenyum, lalu berlutut mensejajarkan tubuhnya denganku yang terduduk di kursi bantuan ini, menggenggam erat tanganku, mendekatkan bibirnya ketelingaku dan berbisik manis "Aku tau, karena itu aku tak pernah menyerah.". 


-Agnesia Ayu Handina Satria-

Menjadi Yang Unggul

"Baru kemarin Ujian Akhir Semester pertama, sekarang harus lagi belajar untuk yang kedua." protes Riyah dalam hati kecilnya. Jam dinding sudah menujuk ke pukul sepuluh malam lebih sebelas menit. Dengan mata yang tak lagi kuat menahan agar tak terpejam. Riyah masih terpaksa berkutat dengan buku-buku paket mata pelajaran yang akan dihadapinya dalam ujian besok. Sampai hampir tengah malam Ia baru membereskan buku-bukunya, mematikan lampu, menarik selimut dan tertidur.
Paginya diawali seperti pagi-pagi biasanya. Dibanguknkan Sang mama untuk Shalat Subuh lalu bersiap untuk pergi ke sekolah. Kemeja putih ketat, rok abu-abu diatas lutut, kaos kaki panjang, flat shoes putih cantik dan rambut panjang kuncir kuda yang dihias pita pink besar. Riyah bergaya didepan kaca sambil melengkapi stylenya dengan aksesoris hits anak jaman sekarang. Setelah sarapan ia berangkat kesekolah menumpang mobil pribadi ibunya dengan diantar pak supir.
Riyah termasuk dalam jajaran anak ternama di Sekolah Menengah Favorit tempatnya menimba ilmu. Bagaimana tidak? Selain cantik, Papa Riyah adalah salah satu dari donatur disana. Meski begitu Riyah bukan anak sombong. Bukan juga anak yang lebih mementingkan perkembangan dunia gaul jaman sekarang seperti kebanyakan temannya. Dia pintar, selalu mendapat peringkat kelas dan menjabat Wakil Ketua dalam Organisasi Intra Sekolah.
"Krriiiiinnngg!" bel tanda masuk berbunyi, ujianpun dimulai. Suasana ruang ujian hening, semua murid berkonsentrasi memecahkan soal nomer demi nomer di lembaran kertas ujian, beberapa ada mulai mencontek salinan, beberapa lagi mulai bertanya kanan dan kiri. Riyah asik dengan lembarannya sendiri, tersenyum sumringah seakan tak menyesal sudah belajar sampai larut semalam.
Ujianpun selesai, semua murid merasa lega telah melewati hari tegang pertama. "Hairiyah, nanti sebelum pulang kamu diminta menghadap ke ruang kepala sekolah ya." Tegur guru pengawas pada Riyah sebelum beranjak dari ruangan. "Baik pak..." Jawabnya.
Selesai berkemas Riyah langsung menuju keruang KepSek. Disana sudah menunggu Pak Kepala Sekolah dengan Pak Wakil tentunya, Guru pembina dan konseling, guru wali kelasnya, dan Jaka satu murid kelas XI lain didampingi dengan sang wali kelas. Jaka adalah satu-satunya murid dengan keterbatasan fisik di sekolah favorit itu, kakinya lumpuh dan harus menggunakan kursi roda, Jaka masuk sekolah ini bermodal beasiswa dari para donatur karena kecerdasannya. Riyah pun mengakui bahwa kepintarannya tak sebanding dengan Jaka sejak pertama kali mengenal sosok Jaka.
"Begini Hairiyah dan Jaka, kami meminta kalian kemari karena ada sesuatu hal." Pak Kepala Sekolah mengawali percakapan. "Sesuatu hal apa ya pak?" Timpal Riyah yang memang aktif dalam hal apapun, sementara Jaka memilih hanya mendengarkan. "Program pertukaran pelajar ke Australi sebentar lagi, kami sepakat bahwa kalian pantas kami berangkatkan kesana" jelas Pak Kepala Sekolah kepada Riyah dan Jaka. "Yang bener pak, saya siap pak." Kali ini dengan semangat Jaka memilih untuk bersuara. Riyah melirik Jaka, dalam hatinya merasa anak ini pasti ingin sekali berangkat sepertiku. "Tapi ternyata, Program ini hanya mengharuskan kami mengirim satu orang." Sambung Pak Wakil Kepala Sekolah. "Kami sudah mengadakan rapat guru dan pertemuan para donatur sekolah kemarin, dan sepakat bahwa Hairiyah yang akan berangkat, sementara kamu Jaka kamu akan menjabat Wakil Ketua OSIS sementara menggantikan Hairiyah." Tentu saja Riyah senang dengan keputusan itu, namun disela-sela kegembiraannya Riyah melihat wajah haru kecewanya Jaka.
Setelah pertemuan tadi selesai, Riyah menghampiri Jaka. "Jaka..." Sapanya, "hai Ri, selamat ya." Jawab Jaka tersenyum, "Makasih jak, besok ketemu di Ruang OSIS ya, gue mau kasih tau lo tugas-tugas yang perlu lo lanjutin.", "sip..." Jawab jaka lagi santai. Dengan mencoba berani mengakrabkan diri, Riyah kembali memulai percakapan dengan Jaka. "Jak, lo nggak apa-apa kan kalo gue yang berangkat?" Tanyanya. Jaka tertawa lalu kemudian menjawab "nggak apa-apalah Ri, aku udah nebak kok kalo kamu yang dipilih." Pembawaan seorang Jaka memang sopan, nggak seperti anak-anak jaman sekarang yang kalau bicara suka seenaknya. "Selain kamu eksis, anak donatur, kamu layak kok, udah cantik pintar lagi... Sedangkan aku cacat, mana mau sekolah favorit ngirim anak cacat berbeasiswa kaya aku, malu lah..." Jelas jaka sportif. "iih, lo jangan ngomong begitu jak, mungkin lo nggak apa-apa gue yang berangkat. Tapi gue yakin orang tua lo bakalan bangga kalo lo yang berangkat" balas Riyah dengan senyum.
Dirumah, Riyah terus memikirkan percakapan siang tadi dengan Jaka. Riyah pikir penjelasan Jaka tentang kenapa akhirnya dia yang dipilih ada benarnya, tapi bukankah itu justru sedikit tidak adil? "Mentang-mentang gue anak donatur gue yang dipilih gitu, padahal jelas peringkat Jaka lebih diatas peringkat gue, Jaka pasti agak kecewa. Tapi ya, namanya juga Jaka terlalu rendah hati anaknya.".
Esok hari seperti janjinya kemarin Riyah menemui Jaka diruang OSIS, tapi tidak untuk menjelaskan tugas-tugas Wakil Ketua OSIS. Dengan Pak Kepala Sekolah dan Wali Kelas Jaka, Riyah memberi penjelasan ke Jaka bahwa Jaka lebih layak berangkat untuk Program Pertukaran Pelajar karena peringkatnya berada diatas peringkat Riyah. "Surprise! Ini baru keputusan yang fair Jak, dilihat lewat peringkat. Nyokap bokap lo pasti bangga." Riyah memberi selamat dengan riang kepada Jaka sang terpilih.
Riyah dan Jaka semakin akrab setelah Jaka berangkat ke Australi, mereka sudah bisa dibilang sahabat sekarang. Mereka sering sekali bercengkrama via internet dan bercerita pengalaman setiap harinya masing-masing. Riyah senang pada akhirnya Jaka tak lagi berpikir dirinya kurang sempurna semenjak Program Pertukaran Pelajar Ia Jalani. Kata Jaka teman-temannya disana menerima Jaka dengan ramah. Riyah tak sama sekali iri, kecewa ataupun menyesal bahwa pada akhirnya bukan dia yang ada disana. Toh sesekali bukan menjadi yang unggul bukan suatu yang perlu disesali.


-Agnesia Ayu Handina Satria-

RizkiMu

Pagiku hari ini bermula seperti kebanyakan orang-orang yang benar dalam menjalani hidup. Bangun pagi, bersiap-siap melaksanakan aktifitas, lalu beranjak dari persinggahan menuju tujuan yang sama "berperang dengan waktu dan lelah demi melanjutkan hidup".
Aku memilih untuk menggunakan kereta api listrik hari ini. Selain agar cepat sampai dan murah meriah, setidaknya aku takperlu berdiri lama menunggu bus kota dan ketika datangpun mesti harus berlari-lari kecil agar mendapat tempat duduk.
Sekitar sepulu menit aku duduk didalam gerebong kereta sampai akhirnya kereta mulai melaju. Tanpa sengaja aku melihat sekelilingku, satu persatu kutatap, beberapa adalah karyawan dan karyawati Jakarta berpakian rapih dengan raut wajah sama, berpikir apa yang akan dihadapi nanti ketika sampai ditempat kerja. Beberapa lagi mahasiswa dan mahasiswi yang sibuk dengan gadget mereka. Ada anak-anak sekolah berseragam yang turun di dua stasiun berikutnya. Pedagang-pedagang yang menjajakan jualannya kepada para penumpang KRL ini.
Lalu mataku terpaku pada seorang laki-laki paruh baya, mungkin umurnya sekitar 60tahun. Berpakaian seragam olah raga lusuh bertuliskan persatuan pensiunan sebuah perum negara, lengkap dengan topi dan ikat pinggang "Tut Wuri Handayani", bersepatu olah raga putih kotor dan banyak sekali jaitan solnya. Dia berdiri tak jauh dari tempat dudukku, tangan kirinya berpegangan tiang dan tangan kanan menjinjing kandang anak ayam yang diwarnai merah muda, biru muda dan hijau muda. Dia turun di stasiun yang seberangnya tepat berada sekolah dasar.
Aku mengamatinya lama, kemudian hati kecilku bergumam memanggil sebuah nama, "Hai Jibril, malaikat pembawa pesan, kemari sini hampiri aku sebentar." Setelah merasa yang kupanggil sudah dekat dan khusyu aku melanjutkan lagi perkataanku, "Jibril, tolong sampaikan pada Tuhan. Berilah rezeki yang layak untuk bapak yang aku amati lama tadi. Berilah senyum untuk orang-orang yang menunggu bapak tadi dirumah. Biarlah saya yang hari ini juga mengejar sesuatu yang sama sebetulnya mendapatkan rezekiNya paling belakang. Meski sama-sama merasa sulit mengais yang kami butuhkan, saya masih lebih bisa bertahan dibanding beliau. cuma dengan cara menyampaikan pesan lewatmu lah pada Tuhan aku bisa sedikit membantu beliau." 


-Agnesia Ayu Handina Satria-