Thursday, October 18, 2012

Dia Istriku


"Aku mencintainya tulus, dengan semua yang ada dalam dirinya." Begitu yang selalu dikatakannya saat semua orang terheran kenapa dia begitu kuat bertahan disampingku. Aku tipikal orang yang bukan hanya keras kepala, tapi juga keras hati. Orang-orang yang mendampingiku harus secara alami mempunyai sifat sangat penurut. Kalau tidak, aku yakin akan lebih banyak pertikaian terjadi dibanding moment-monent harmonis. 
Waktu pertama kali menjalin kasih dengannya, tak sama sekali kugunakan perasaan untuk memperlakukannya sebagai seorang kekasih. Kami masih terbilang muda saat itu, jadi menurutku hubungan kami hanya sekedar untuk bersenang-senang. Tapi nyatanya tidak untuk dia, perempuan yang memang mempunyai hati sangat lembut ini terlalu ringkih untuk menganggap hal yang kami jalani adalah sebuah kesenangan belaka. Harapannya pada hubungan kami sangat besar untuk mencapai kalimat "Bahagia Selamanya.". Menyadari hal itu aku memilih untuk mundur, tapi berkali-kali aku mundur berkali-kali itu pula dia berjuang keras untuk membuatku kembali, dan dia berhasil. Entah kenapa aku merasa, meski aku ragu bisa membalas begitu besar rasa cintanya padaku, aku tak bisa memungkiri bahwa aku membutuhkannya disampingku, satu-satunya perempuan yang tak tumbang berdiri disampingku.
Sembilan tahun lamanya kami bersama dalam hubungan yang orang-orang sebut dengan kata "pacaran". Kali ini aku membuat sebuah kesalahan besar yang justru seperti senjata makan tuan untukku. Kekasih hati yang setia namun tak pernah kuanggap pergi, lelah berjuang keras untuk meluluhkanku, menyerah pasrah meskipun berat untuk pergi menghilang dari kehidupannku. Aku sadar betul kali ini aku betul-betul menyakiti hatinya sampai kebagian paling dalam. Kekalutan mulai menguasai diriku yang ternyata tak bisa hidup jauh tanpanya.
Sampai pada satu malam dalam keadaan mabuk parah, aku mengendarai mobilku dengan laju kecepatan diatas normal, aku kehilangan kendali dan akhirnya mengalami kecelakaan parah yang membuatku lumpuh permanen.
Hari ini, ditempat favorit kami. Aku yang hanya bisa duduk diatas kursi roda, menyaksikan matahari terbenam didampingi perempuan paling cantik yang pernah aku temui selama hidupku. Perempuan dengan hati selayak emas yang mengatas namakan aku dalam perjuanganya mencapai kalimat "bahagia selamanya". Perempuan hebat yang tanpa mengeluh sediktpun memutuskan untuk kembali memdedikasikan dirinya mendampingiku, laki-laki lumpuh tak tahu diri yang dulu pernah menyakitinya. Perempuan luar biasa ini kini kusebut istriku.
Disaksikan alam, dengan keadaanku yang apa adanya sekarang, aku memberanikan diri untuk mengatakan hal yang tak pernah sebelumnya, hal yang paling ia tunggu-tungu, hal yang seharusnya aku katakan dari awal tapi tidak karena aku mebiarkan keraguanku mengalahkan rasa yang sebenarnya ada. "Aku sayang kamu istriku". Dia tersenyum, lalu berlutut mensejajarkan tubuhnya denganku yang terduduk di kursi bantuan ini, menggenggam erat tanganku, mendekatkan bibirnya ketelingaku dan berbisik manis "Aku tau, karena itu aku tak pernah menyerah.". 


-Agnesia Ayu Handina Satria-

No comments:

Post a Comment